Mem-Bookmark Online dengan Google

Seringkali, di sela-sela waktu bekerja (ya, saya sekarang sudah kerja :victory: ), saya menemukan halaman-halaman web yang berisi informasi-informasi bermanfaat seperti tutorial, link buat donlod, dll. Namun, karena lagi jam kerja saya jadi kurang punya waktu buat mengeksekusi (baca, praktekin, dll) isi halaman-halaman web yang saya temukan tadi. Jadi, supaya informasi-informasi tersebut gak hilang dan saya lupakan begitu saja, biasanya langsung saya simpan di flashdisk.

Kendala terjadi jika suatu saat saya lagi gak bawa flashdisk, kalo disimpen di komputer kantor (kantor? :horror: ) kadang malah saya lupa kalo naro di folder mana (saking banyaknya file dan folder yang berserakan :grimace: ). Kendala lain, untuk link-link donlod yang terletak di situs-situs donlod terkemuka (rapidshare, 4shared, idws, dll) aksesnya diblok oleh proxy kantor selama jam kerja. Solusi yang muncul adalah untuk nyimpen (mem-bookmark) halaman-halaman (link-nya) secara online, supaya di rumah bisa saya akses lagi.

Pendekatan awal yang saya lakukan adalah mem-bookmark di email, caranya, saya mengirim email ke diri sendiri yang berisi link-link tersebut. Koq, tampak bodoh ya ngirim email ke diri? :shocked:

Kemudian ada ide, bookmark di Facebook, tapi Facebook gak bisa diakses di kantor selama jam, kerja. Kalo di Twitter, susah tracking-nya.

Akhirnya, Google Bookmarks menjadi solusi. Sebenarnya ada sih situs-situs lain selain Google Bookmarks, seperti …. banyaklah pokoknya  :haha: . Intinya, Google Bookmarks menurut saya bagus buat mem-bookmark secara online, ga tau apa kelebihan kekurangannya. Yang tau ngiring kasi tau atuh… :bigsmile:

*Gambar ngerampok dari situ.

Shout Whatever We Want! Do Chaos!

Bukan, ini bukan suatu slogan, motto, atau semboyan!

Ini adalah kritik, kritik untuk siapa saja yang mau menerima ini sebagai kritik!

Suatu malam, M, seorang pemuda duapuluhtahunan, memandangi aliran perubahan terkini pada suatu situs jejaring pertemanan, dan kemudian melihat temannya membagi suatu kalimat. M merasa sedikit not feel fine melihat kalimat tersebut, tidak pantas ada di ruang publik menurutnya. Kemudian M mencoba mengingatkan temannya tersebut dengan memberikan kalimat tambahan, komentar.

Beberapa saat berlalu, teman M tadi membalas kalimat M, “i do whatever i want, none of your bussiness, clean ur mind maybe“, kira-kira begitu. M kecewa, menurutnya masih ada batasan antara ruang publik dan ruang privat. Tidak semua hal, tidak semua kalimat bisa ditumpahkan di ruang publik, menurut M.

Tampaknya M tidak menyadari bahwa semangat yang ada sekarang adalah “Do Whatever We Want, Shout Whatever We Want, Wherever, Whenever, Gak Usah Risaukan Orang Lain!”. M konservatif, menganggap hidup masih harus dengan norma-norma, sopan santun, tahu tempat, tahu waktu. Tampaknya M harus menyesuaikan dirinya, karena anggota dewan pilihan rakyat pun biasa berkata kasar di ruang publik, tanpa harus mawas dengan batasan-batasan.

Semua sudah berubah M, masih mau memegang prinsip?

~~~~~~~~~~~~~~~~***************~~~~~~~~~~~~~~~~

Gambar di atas diambil tanpa izin dari koleksi foto milik James C. C.