
Monthly Archives: August 2009
Lihatlah Bintang yang Sama, Karena Bulan Memang Sama

Dua atau tiga hari yang lalu, M, seorang pemuda duapuluhtahunan, menonton sebuah film lokal. Pada film itu dia mendapati suatu ungkapan (atau apalah itu namanya) yang dinyanyikan dalam sebuah lagu dan diucapkan oleh pemeran dalam film tersebut. Ungkapan itu : lihatlah bulan yang sama agar kita merasa dekat. Kurang lebih begitu seingat M.
Ungkapan itu, menurut interpretasi M, diungkapkan untuk para pasangan yang sedang menjalani hubungan jarak jauh. M tidak mengerti implementasi nyata dari ungkapan tersebut. M bertanya-tanya dalam hati dan otaknya. Apakah dengan melihat bulan yang sama akan membuat hubungan para pasangan tersebut akan baik-baik saja tanpa masalah? Pertanyaan yang tidak perlu dijawab.
Namun, bukan implementasi itu yang paling mengganggu hati dan otak M. Yang paling dia bingungkan adalah : mengapa para pasangan yang sedang menjalani hubungan jarak jauh disarankan melihat bulan yang sama? Karena sepengetahuan M, berdasarkan ilmu yang diperolehnya di bangku sekolah, Bumi tempat kita tinggal hanya mempunyai satu bulan.
Jadi, para pasangan yang sedang menjalani hubungan jarak jauh itu memang sudah sewajarnya, sepantasnya melihat bulan yang sama. Karena bulan memang sama. Lain cerita kalo ternyata kita hidup di Jupiter, bukan di Bumi. Jupiter punya bulan lebih dari satu.
Menurut M, jika para pasangan yang sedang menjalani hubungan jarak jauh itu ingin merasa dekat, harusnya mereka melihat bintang yang sama. Dari Bumi tempat tinggal kita terlihat banyak sekali bintang, ribuan, mungkin milyaran. Pilihlah satu bintang yang sama, dan lihatlah. Namun, M tidak menjamin dengan melihat bintang yang sama hubungan para pasangan yang sedang menjalani hubungan jarak jauh akan baik-baik saja.
Dan tentu saja, M bukanlah seorang yang harus kita percaya seratus persen, pendapatnya adalah pendapatnya. M pun tidak yakin pendapatnya benar. Persetan bulan dan bintang, M masih punya Matahari.
Sekuntum Bunga yang Pernah Membuka Mata dan Menutupnya Kembali
+cerita di bawah bisa jadi benar bisa jadi bohong, jangan dianggap serius+

Seorang pemuda, 20 tahunan, sebut saja dia M. M tidak pernah melihat dunia dengan mata terbuka. Dia tidaklah buta, hanya, ya itu tadi , tidak pernah melihat dunia dengan mata terbuka, dia melihat semua hal yang bisa dilihat oleh orang-orang, tetapi dia sendiri dan beberapa orang yang kurang lebih bijaksana mengatakan matanya tak pernah terbuka.
Sehari-hari, M yang masih menuntut ilmu dan bercita-cita agar negara di mana ia tinggal bisa lebih maju, berangkat menuju tempatnya menuntut ilmu dengan kakinya. Jalur yang ia lewati menuju tempatnya menuntut ilmu bisa dibilang itu-itu saja, tanpa perubahan selama 3 tahun belakangan. Suatu hari di bulan kesembilan di tahun itu, mungkin karena takdir, M mengubah rute perjalanannya. Jalur barunya hari itu memaksanya untuk melewati sebuah taman, taman bunga, yang ada di tengah perumahan di daerah tempat tinggal M.
M yang baru kali pertama melewati taman itu tiba-tiba merasa terkejut, matanya terbuka. Dia dan seseorang yang kurang lebih bijaksana yang kebetulan duduk di bangku taman itu merasa mata M yang selama ini tidak terbuka, sekarang terbuka. M melihat sebuah(?) pohon(?) bunga, yang kebetulan sedang berbunga. Bunga itulah yang tampaknya dapat membuka mata M yang selama ini tidak pernah terbuka. M memandangi bunga itu, agak lama, mungkin karena ia sudah tahu bahwa pengajar di tempatnya menuntut ilmu hari ini tidak datang. Bagi M, bunga yang satu itu benar-benar berbeda, benar-benar indah, benar-benar anggun, benar-benar membuka mata.
————–++++——–——–
Beberapa waktu berlalu sejak mata M terbuka, M tetap melanjutkan kehidupannya seperti biasa, menuntut ilmu di tempatnya menuntut ilmu. Namun, tidak seperti sebelum M melihat bunga di taman yang ada di tengah perumahan di daerah tempat tinggal M, ia sekarang lebih menjalani hidupnya dengan penuh semangat. Dengan melihat dunia dengan mata terbuka M merasa banyak hal bisa ia raih dalam hidupnya. Lebih banyak warna bisa ia nikmati. Tidak lupa setiap hari ia melewati taman itu untuk melihat bunga yang telah membuka matanya dalam perjalanannya menuju dan kembali dari tempatnya menuntut ilmu.
Pernah terlintas niat M untuk rutin menyirami dan merawat bunga itu, tetapi ternyata di taman itu sudah ada penyiram otomatis dan tukang kebun yang merawatnya setiap hari. Seorang teman M bertanya tidak adakah niat M untuk nekat memetik bunga itu, untuk ditanam di rumah, atau mungkin di tempat menuntut ilmu, atau mungkin disimpan di vas agar bisa lebih sering dilihat. M sama sekali tidak memiliki salah satu dari niat tersebut. M lebih suka melihat bunga itu tetap indah di tamannya, malah ia takut jika bunga itu dipindahkan bunga itu akan layu. Biar saja tetap di taman.
————–++++——–——–
Carut marut keuangan tampaknya sedang membelenggu negara tempat tinggal M. Hal ini berdampak pada kondisi keuangan M, untuk sementara ia harus berhenti menuntut ilmu, untuk mencari kegiatan lain yang menghasilkan uang. Hal ini membuat M tidak lagi pernah melewati taman yang ada di tengah perumahan di daerah tempat tinggal M untuk sekedar melihat bunga yang telah membuka matanya, karena taman itu tidak terletak searah dengan tempat M melakukan kegiatan lain yang menghasilkan uang. Selain itu, M sangat larut dalam kesibukannya melakukan kegiatan lain yang menghasilkan uang.
Kurang lebih 6 bulan telah lewat sejak M tidak pernah lagi melihat bunga yang telah membuka matanya. Suatu hari, mungkin karena takdir lagi, M ternyata kebetulan harus lewat di taman yang ada di tengah perumahan di daerah tempat tinggal M. Ia pun melihat bunga yang telah membuka matanya. Bunga itu masih ada, hanya kali ini sudah berbeda. Bunga itu kini tampak liar, penuh duri, tetap mekar tetapi kasar. Ternyata carut marut keuangan juga berdampak pada taman itu, penyiram otomatis tampaknya sudah lama tidak berfungsi, tukang kebun mungkin sudah lama di PHK.
Tidak ada lagi yang bunga yang benar-benar berbeda, benar-benar indah, benar-benar anggun, dan benar saja hal itu membuat M kembali tidak melihat dunia dengan mata terbuka. Dia pun melanjutkan perjalanannya, melanjutkan hidupnya, kembali tidak melihat dunia dengan mata terbuka.